Archive for wE caN EaT tOgEthEr

Ayam Bakar Wong Solo

wong-solo-2t.jpg wong-solo-3t.jpgwong-solo-4t.jpg

Ayam Bakar Wong Solo Cabang Jogjakarta berdiri 2 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 14 Juli 2001. Menempati areal 3500 m2, dengan luas bangunan 1300 m2, terdiri atas bangunan pendopo (utama) ruang VIP dan lesehan. Selebihnya adalah area parkir yang bisa menampung 75 kendaraan roda empat.

Menu yang disajikan adalah menu khas jawa dengan rasa Indonesia (Nusantara) disamping menu-menu masakan cina yang dimodifikasi ala Wong Solo. Jam buka Rumah Makan Wong Solo adalah Jam 09.30 – 22.30 WIB, untuk bulan puasa buka jam 16.00 – 23.00 WIB. Sepanjang tahun libur/tutup pada Hari Raya Idul Fitri (2-3 hari), Idul Adha (1 hari) dan libur awal puasa. Selebihnya buka terus tiap hari. Sampai saat ini Wong Solo sudah membuka cabangnya di Pulau Sumatera, Jawa, Bali. Kalimantan dan Sulawesi sedang dalam tahap pembangunan. Jumlah sudah 32 cabang di seluruh Indonesia.

Anda dapat menikmati menu istimewa di Ayam Bakar Wong Solo yaitu Ayam Bakar Utuh (Rp. 40.000) atau paket dengan harga mulai Rp. 17.000/orang.

Larisnya Nasi Bebek Yogi

Strategi promosi yang cerdas menjadi pilihan pasangan suami-istri ini membuka warung nasi bebek. Setelah menjamu makan gratis, pelanggan datang dan datang lagi. Apa lagi rahasia suksesnya?

KLIK - Detail Rasa gurih, manis, dan pedasnya pas di lidah. Rasa areh (buih) santan kelapa kental yang melumuri tiap potongan daging bebek bakar, menyentuh hingga tulang-tulangnya. Bila daging bebek bakar atau goreng itu disantap dengan nasi uduk hangat plus sambal mangga yang asem pedas, hmm nikmatnya terasa hingga suapan terakhir.

Daging bebek yang terkenal alot dan amis, rupanya telah dikikis oleh si peramu bumbu sekaligus pemilik warung Nasi Bebek, Ati (44) dan Yogi. Berkat ramuannya, warung yang dikelola di Jalan Raya Kelapa Dua, Jakarta Barat ini tak pernah sepi pembeli.

Biasanya, daging bebek, baik bakar maupun goreng atau diolah apa pun, lebih nikmat disantap saat panas. Daging bebek pun tidak akan liat dan keras saat dikunyah. Namun, di Warung Yogi, meski daging bebek sudah dingin, dagingnya tetap empuk.

KLIK - DetailJASA PELANGGAN PERTAMA
Menemukan Warung Nasi Bebek Yogi tidaklah sulit. Bila Anda dari arah Jalan Daan Mogot, posisinya ada di sebelah kiri jalan setelah perempatan Kebon Jeruk. Namun, bila Anda dari arah Permata Hijau, letaknya di sisi kanan kurang, lebih 50 meter sebelum perempatan Kebon Jeruk.

Sebenarnya, Yogi belum lama membuka warung di sana, tepatnya pertengahan Januari 2006. Namun, dengan cepat warungnya dibanjiri pencinta makanan. “Awalnya, saya hanya menempati emperan show room motor di sebelah warung yang sekarang ditempati. Dulu cuma pakai mobil pick up. Habis enggak punya warung.

Hanya dua minggu pertama sejak dibuka, “warung mobilnya” dipenuhi mobil berderet-deret. Wah, kok cepat sekali laris? Jangan salah. Itu bukan pembeli sebenarnya, namun bagian dari cara berpromosi Yogi. “Mereka teman-teman kantor suami saya. Mereka kami undang makan gratis. Syaratnya, harus bawa mobil dan memarkirnya dekat warung,” ungkap Ati tergelak.

Kenapa harus bawa mobil? “Itu strategi dagang suami saya. Maksudnya agar orang-orang yang lewat mengira, pembeli kami langsung banyak. Kalau pembeli banyak, pasti mengundang penasaran calon pembeli lainnya. Orang, kan, selalu beranggapan, bila ada warung dikerubuti pembeli, artinya makanan yang dijajakan pasti enak.”

Tentu saja bukan hanya itu cara menarik pembeli. Syarat utama pastilah rasa yang enak di lidah pembeli. Mereka berusaha mengolah daging bebek agar tak alot. “Orang selalu beranggapan, daging bebek alot dan amis. Itu yang jadi target kami. Selain olahan enak, bebek kami benar-benar tidak amis. Dagingnya empuk. Biasanya kami merebus dulu daging bebek selama tiga jam. Untuk bumbu, rempah-rempah dan santan kami ramu dengan takaran yang pas,” jelas Ati.

Strategi dagang mereka terbukti jitu. Pembeli datang satu per satu. “Setiap ada pembeli, teman-teman suami saya menggeser duduknya. Biar pembeli kebagian tempat,” tutur perempuan asal Surabaya yang ingat wajah pelanggan pertamanya. Pelanggan ini ikut berjasa demi kemajuan usahanya “Soalnya dia datang lagi membawa teman. Lalu, temannya datang lagi mengajak teman lain. Begitu seterusnya.”

Sekarang, pelanggan pertamanya ini sudah pindah kantor di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya berjualan. “Tapi, dia masih suka pesan lewat telepon. Untuk pelanggan pertama ini, saya kadang memberinya gratis,” ujar Ati.

KLIK - DetailSUSAH CARI TEMPAT
Satu lagi kiat dagang Ati yaitu mencari tempat yang strategis. Sebelum menentukan tempat dagang yang cocok, ia perlu waktu setahun. “Semula saya berputar-putar ke pelosok Jakarta untuk mencari tempat strategis agar didatangi pembeli. Tapi enggak dapat juga.”

Sebenarnya, Ati dan suaminya menemukan tempat strategis di sebuah emperan toko di kawasan Blok M. Namun, penjual makanan yang sebelumnya mangkal, tidak mengizinkan Ati dagang di sana. “Padahal si pemilik toko tidak keberatan emperannya kami tempati di malam hari.”.

Yogi yang sebelumnya punya usaha katering lantas putar otak. Untuk tempat jualan, ia memanfaatkan mobil boks yang sebelumnya digunakan untuk mengantarkan makanan. “Masalahnya, di mana kami jualan.”

Namanya juga rezeki. Ketika menyervis motornya di kawasan Kebon Jeruk, Yogi iseng-iseng melontarkan keinginannya membuka warung mobil di emperan show room itu. Rupanya si pemilik tak keberatan.Yogi dan Ati yang bertempat tinggal di Bekasi pun lantas berkemas. Ia mulai kerja keras memasak bebek.
KLIK - Detail
Omong-omong kenapa pilihan dagang jatuh ke daging bebek? “Dagang nasi ayam di Jakarta sudah jenuh. Di mana-mana orang jualan daging ayam. Nah, saat hari pertama jualan, kami langsung masak 20 ekor bebek. Suami saya bilang, kalau cuma bawa dua ekor, pembeli akan menganggap kami tidak serius.”

Sayang seribu sayang, hari pertama berjualan, keduanya hanya mengantungi Rp 270 ribu, jumlah yang hanya pas-pasan. Dari sanalah kemudian timbul strategi dagang Yogi, memberi makan gratisan saban hari untuk rekan-rekan kerja Yogi di Global TV.

Baru sebulan berjualan, pedagang martabak di sebelah Ati memberitahu ada rumah akan dikontrakkan. “Berhubung letaknya di sebelah persis emperan show room motor, kami langsung konrak selama dua tahun. Di tempat permanen, pembeli merasa lebih nyaman. Pembeli bertambah banyak,” kata Ati seraya mengatakan dari semula tiga bangku, kini mereka menyiapkan lebih dari 40 bangku.

Blenger Burger, Roti “Amrik” Buatan Lokal

Berawal dari kios kecil di pinggir jalan,Blenger Burger kini memiliki pelanggan ribuan orang. Para pelanggan rela nongkrong di dalam mobil atau duduk di atas motor sambil menyantap pesanannya.

Makan burger sampai “mblenger”? Siapa saja yang penasaran barangkali bisa mencoba makan burger di kios Blenger Burger milik Erik Kadarman Subarna (33). Dengan nama yang dipajangnya, Erik ingin menjamin siapa saja yang makan burger di kafe tendanya menjadi “klenger” karena “mblenger”.Pertama kali mendengar nama Blenger Burger, yang terbayang adalah ukuran burger raksasa yang siap mengenyangkan perut. Tetapi, begitu makanan asal Amrik itu dihidangkan, ternyata burger buatan Erik ini biasa–biasa saja dari segi ukuran. Namun, ketika digigit, rasa dagingnya terasa begitu lain.

Blenger Burger menghidangkan burger dengan daging sapi yang dipanggang (grill). Menurut Erik, grilled burger (burger panggang) masih jarang ditemui di Jakarta. Sebelum dipanggang, daging sapi dengan kualitas FQ 90 –– daging yang mengandung 90 persen daging dan 10 persen lemak –– ini diolesi dengan saus barbecue. Di atas panggangan, daging barbecue ini matang dalam waktu paling lama 15 menit.

Daging yang sudah matang kemudian diselipkan di antara roti yang kemudian diberi lettuce (semacam selada) dan kyuri (mentimun Jepang). Dibandingkan dengan selada dan timun biasa, lettuce dan kyuri memang terasa lebih renyah.

Sebagai bumbu, di antara potongan roti ditambahkan tomat, saus tomat, saus sambal, dan bawang Bombay. Ada lagi tambahan keju potong bagi yang ingin memesan burger keju. Agar tidak merusak keseluruhan rasa burger, Blenger Burger menggunakan bawang Bombay yang dicincang.

Supaya lebih enak, isi dari burger yang disajikan dibuat meleleh menjadi satu. Caranya, setiap kali selesai diisi dengan bahan–bahan isian, burger–burger itu dimasukkan ke dalam microwave selama beberapa detik. Selain isinya sudah meleleh, roti yang dimakan pun terasa hangat.

Selain burger, sebenarnya masih ada makanan lain yang benar–benar membuat mblenger, yaitu chilli dog dan cheesy dog. Dari segi ukuran, makanan jenis hot dog ini memang lebih besar dibandingkan dengan hot dog lainnya. Sosis yang digunakan juga berukuran lebih besar… dan tentu saja dipanggang sebelum disajikan.

Seperti burger keju dan burger daging, chilli dog dan cheesy dog ini isinya juga dibuat meleleh. Hal yang membedakan keduanya adalah jenis sosis yang digunakan. Cheesy dog memakai sosis jenis beef frank yang beraroma asap (smoked beef).

Chilli dog menggunakan sosis biasa tanpa aroma asap. Untuk penyedap, chilli dog juga diberi tambahan saus spageti. Seperti burger, chilli dog dan cheesy dog juga diberi mayones, saus sambal, dan tomat.

Jika sudah selesai makan dan terasa mblenger, ada jus stroberi segar sebagai penawar rasa. Jus stroberi ini benar–benar dibuat dari buah stroberi asli yang diblender. Agar tahan lama, buah stroberi yang belum terpakai dimasukkan ke dalam kantong plastik tertutup lalu disimpan dalam lemari es. Sekilas rasa rasa jus stroberi segar ini terasa seperti jus jambu merah.

Buatan sendiri

Dengan makanan yang banyak digemari anak muda serta desain kios yang trendy, Blenger Burger mencoba menghadirkan makanan berkelas meski disajikan di pinggir jalan. Menurut Erik, nama Blenger Burger sengaja dipilih untuk menunjukkan bahwa makanan dari negeri Paman Sam ini buatan lokal.

Papan nama sebagai penanda tempat juga sengaja lebih menonjolkan tulisan Grilled Burger daripada Blenger Burger. Hal ini dilakukan karena Erik ingin burger–nya dikenal sebagai burger panggang. “Saya juga tidak ingin menipu pelanggan dengan visual,” kata Erik.

Meski dari sisi penampilan terlihat mahal, ternyata harga yang ditawarkan Blenger Burger relatif tidak terlalu mahal. Harga satu potong cheesy dog dijual Rp 10.500, sedangkan cheese burger harganya Rp 10.000. Sementara harga beef burger dan chilli dog masing–masing hanya Rp 9.000.

Agar bisa murah, Erik membuat sendiri bahan–bahan yang akan digunakan untuk membuat burger dan hot dog. Mulai dari roti, daging isian, sosis, mayones, saus tomat, saus sambal, mustard, serta saus barbecue semuanya buatan Erik. “Hanya timun dan lettuce yang saya tidak bisa bikin… ha–ha–ha,” kata Erik.

Untuk menarik minat pembeli, Blenger Burger didesain dengan konsep dapur terbuka. Konsep ini menyuguhkan pemandangan memasak kepada pengunjungnya. Jadi siapa saja yang sedang memesan, bisa langsung melihat cara membuat burger dan hot dog.

Pengunjung juga bisa melihat dan mencium aroma daging–daging isian burger dan sosis yang dipanggang. Cara seperti ini diyakini Erik bisa mengundang selera bagi siapa saja yang lewat. “Biasanya orang menjadi ngiler begitu melihat caranya memasak,” tutur Erik.

Cara ini diadopsi Erik dari pengalamannya tinggal di Sydney, Australia. Menurut Erik, di luar negeri banyak orang menjual burger dan hot dog di pinggir jalan. Cara penyajiannya yang menarik serta rasanya yang enak membuat kedua makanan ini menjadi makanan favorit bagi orang–orang yang sedang melintas di trotoar.

Bawa pulang

Di mana ada makanan enak, di situlah anak–anak muda nongkrong. Ketenaran rasa Blenger Burger juga membuat kafe tenda yang berada di Jalan Lamandau IV, kawasan Blok M, ini ramai diserbu pembeli.

Di tempat inilah Erik membuka usahanya untuk pertama kali. Namun sayang, sebagai tempat nongkrong, kafe tenda ini terasa sempit karena hanya bisa menampung 20 pengunjung yang akan makan di tempat.

Sekarang Blenger Burger sudah memiliki dua cabang lagi di Jalan Tulodong dan Bintaro. Namun, dua tempat ini dikerjasamakan dengan sistem waralaba (franchise). Meski begitu, Erik sangat membatasi jumlah waralaba yang akan dibuka dengan alasan sulit untuk mengontrol kualitas rasa. Selain itu, dengan pembatasan jumlah cabang, produk menjadi eksklusif karena sulit dicari.

Tiap cabang mendapat pasokan bahan baku burger dari Erik. Dari tiga cabang yang dimilikinya, Erik bisa menjual 1.900 burger setiap hari. Sementara untuk hot dog rata– rata mampu terjual 500–600 potong setiap hari. Kalau dihitung–hitung, setiap bulan Burger Blenger menghabiskan dua ton daging.

Dalam satu hari, omzet yang bisa diperoleh Erik di Lamandau bisa mencapai Rp 9 juta per hari. Penghasilan yang sangat menggiurkan ini membuat Erik rela meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan swasta skala besar.

Menurut Erik, awalnya Blenger Burger memang hanya berbentuk kios kecil di pinggir jalan. Ukuran kiosnya pada waktu itu hanya 2 x 2 meter persegi. Karena tidak memiliki tempat, Burger Blenger hanya melayani pembeli yang membeli burger dan hot dog untuk dibawa pulang. “Jadi sistemnya take away (bawa pulang). Tapi, lama–lama banyak pembeli yang makan sambil nongkrong di mana saja,” kata Erik.

Pembeli tampaknya memang tidak peduli tempat. Meskipun kursi di kafe tenda sudah penuh terisi pengunjung, para pembeli rela nongkrong tidak jauh dari kios Blenger Burger untuk menyantap burger buatan Erik. Bahkan banyak pembeli yang menciptakan tempat nongkrong sendiri, seperti di mobil ataupun makan sambil nangkring di atas motor.

“Yaaa… lebih enak makan di mobil. Sambil dengerin musik dan ada AC–nya,” ungkap Dewi (19), mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Di Bintaro, setiap bulan puasa orang antre panjang untuk bisa mendapatkan burger dan hot dog di Blenger Burger. Agar tidak kehabisan, pembeli juga harus memesan beberapa jam sebelumnya. Kalau pesanan tidak diambil, burger dan hot dog itu akan diberikan ke pembeli lain.

Setiap harinya kios Blenger Burger buka dari pukul 13.00 hingga pukul 21.00. Namun, sering kali burger–burger buatan Erik ini sudah habis diburu pembeli sebelum kiosnya tutup. Menurut Erik, pelanggan lebih banyak mencari burger daripada hot dog. Untuk keperluan tertentu, burger–burger ini dibawa pulang dalam jumlah sampai ratusan potong. Dan sesuai janjinya, makan di Blenger Burger benar–benar membuat mblenger.